Kabarlombok.com - Harga cabai di Lombok Timur mulai menunjukkan tren penurunan setelah sempat melonjak tajam hingga menembus Rp100 ribu per kilogram pada awal Ramadan 2026.
Saat ini, harga cabai rawit di sejumlah pasar besar sudah turun ke angka Rp80 ribu per kilogram.
Penurunan harga tersebut terpantau di Pasar Aikmel, Masbagik, dan Paok Motong. Para pedagang mengakui harga mulai bergerak turun meski masih berada di atas harga normal.
“Sekarang sudah Rp80 ribu sekilo,” kata salah satu pengepul di Kecamatan Lenek, Muhamad Amin, Minggu, 22 Februari 2026.
Sempat Tembus Rp100 Ribu per Kilogram
Sebelumnya, harga cabai di Kabupaten Lombok Timur melonjak tajam memasuki Ramadan 2026. Di sejumlah pasar, harga komoditas ini sempat menyentuh Rp100.000 per kilogram, jauh di atas harga normal sebelumnya.
“Per hari ini harga di pasar sudah Rp100 ribu sekilo,” ujar Muhammad Amin sebelumnya, Kamis, 19 Februari 2026.
Lonjakan harga cabai tersebut dipicu penurunan produksi akibat cuaca ekstrem yang melanda sentra pertanian cabai dalam beberapa pekan terakhir.
Hujan deras dan angin kencang merusak tanaman, membuat buah membusuk, dan menyebabkan banyak lahan gagal panen.
Keterbatasan produksi lokal membuat pasokan cabai di pasar tidak mampu memenuhi permintaan masyarakat selama Ramadan. Untuk menjaga ketersediaan, para pedagang mulai mendatangkan cabai dari luar daerah, terutama dari Jawa Timur.
“Kita juga ngambil dari Jawa. Istilahnya sekarang ini sudah musim Jawa,” tambah Muhamad Amin.
Langkah ini diambil untuk menstabilkan pasokan sekaligus menahan laju kenaikan harga yang sempat melonjak drastis.
Ketua Program Champion Cabai Kabupaten Lombok Timur, Subhan, juga menjelaskan bahwa kerusakan tanaman terjadi pada sebagian besar lahan yang diproyeksikan panen menjelang Ramadan hingga Idulfitri.
"Seharusnya sebagian lahan sudah siap panen. Namun, karena cuaca ekstrem, banyak tanaman mati dan gagal berproduksi. Inilah yang memicu lonjakan harga," ujar Subhan.
Ia menyebut, sepanjang Januari hingga akhir Desember tahun lalu, harga cabai relatif stabil di kisaran Rp40.000 per kilogram. Penurunan produksi yang signifikan kemudian mendorong harga melonjak hingga Rp100.000 per kilogram di tingkat pasar.
Selain faktor cuaca, pola panen tahunan petani juga memengaruhi terbatasnya pasokan pada awal Ramadan.
Subhan mengatakan petani biasanya tidak melakukan panen pada periode H-3 hingga H+3 Ramadan karena fokus pada persiapan ibadah puasa dan penyesuaian aktivitas di awal bulan suci.
Kondisi ini membuat distribusi cabai tersendat saat permintaan meningkat tajam, sehingga mempercepat kenaikan harga di pasar.
Kini, dengan mulai masuknya pasokan dari luar daerah dan berangsur pulihnya distribusi, harga cabai di Lombok Timur perlahan menurun ke angka Rp80 ribu per kilogram.

0Komentar